03 February 2013

Sumur Resapan

Ini hasil percakapan dengan seorang kawan.
(ilustrasi gambar dari: http://bangalore.citizenmatters.in/pics/0000/6300/recharge-well-in-stormdrain_small.jpg)
-------
  • Dasapta Erwin Irawan
    Anda betul membuat sumur resapan harus hati-hati agar fungsinya bisa seperti yang diinginkan, yaitu memasukkan air permukaan (air hujan) ke dalam akuifer. Untuk memenuhi tujuan tersebut diperlukan beberapa catatan:
    1) Harus ada target akuifer yang dituju:  Apakah posisinya dangkal atau dalam, memang tergantung lokasi dan sangat lokal sifatnya. Untuk tahu ini maka bisa lihat laporan-laporan skala kota atau kabupaten, atau anda melakukan pengukuran geolistrik sendiri.
  • 2) Kedalaman sumur resapan: kedalaman sumur resapan ditentukan target akuifernya. Yang penting posisi dasar sumur harus lebih tinggi dibanding posisi muka air tanah. Posisi muka air tanah dapat anda ketahui dari geolistrik atau anda survei kecil ke rumah atau kawasan di sekitarnya.
    Kalau kedalaman sumur lebih tinggi dibanding muka air tanah statisnya maka air resapan diharapkan tetap bisa meresap turun menuju ke zona jenuh air. Kalau posisi dasar sumur sudah terendam air maka akan sama seperti anda membuat sumur biasa, bukan sumur resapan.
  • 3) Konstruksi sumur: untuk sumur resapan dangkal atau targetnya untuk meresapkan air hujan ke akuifer dangkal (dan jenisnya akuifer tak tertekan), maka cukup sederhana, tidak menggunakan dinding semen. Yang penting sumur tersebut tidak tertutup sampah2 dedaunan dll. Yang lebih penting lagi, harus ada tangkapan air hujan yang dialirkan ke sumur tersebut, misal dari saluran air talang atap, disambung ke sumur tersebut.
  • Untuk sumur resapan dalam, maka konstruksinya harus benar-benar tertutup (dengan casing) di bagian atas, dan dibuka dengan screen hanya di bagian yang menjadi target akuifer. Tentunya tetap posisi dasarnya harus di atas muka air tanah. Tujuannya agar air yang meresap benar-benar hanya dari air hujan di permukaan, tidak bercampur dengan air tanah dari akuifer yang lebih dangkal.
  • Khusus mengenai kasus anda di Pluit atau PIK, saya tidak punya data persisnya, tetapi logika sederhana muka air tanahnya akan sangat dangkal, mengingat pula dulunya adalah kawasan rawa. Dilihat saja sumur-sumur gali di rumah penduduk di sekitarnya. Kalau benar muka air tanahnya dangkal, maka tidak mungkin kita buat sumur resapan.
    Untuk itu bila anda ingin sekali merekomendasikan bangunan ramah lingkungan ke klien anda, sarankan untuk membuat sistem tangkapan air hujan di atas, yang kemudian dihubungkan dengan ground tank di bawah tanah atau basement bangunan, biasanya di taman depan atau di belakang (whom I kidding with, you're the architect :))
    Dengan sistem rain harvesting dan groundtank, sejumlah air hujan bisa ditangkap dan dimanfaatkan sebagai air baku, misal untuk cuci mobil, siram taman dll. Yang jelas rumah itu tidak menambah run off buatan (artificial run off) ke lingkungannya. Kalau anda bisa membuat sistem filter air yang baik, maka tidak menutup kemungkinan air hujan tersebut bisa digunakan untuk keperluan dengan derajat lebih tinggi, misal mencuci baju. Daripada menggunakan air tanah yang kemungkinan besar mengandung Fe dan Mn tinggi (daerah ex rawa). Keuntungan lainnya adalah si empunya rumah bisa menghemat tagihan PDAM atau tagihan air bersih dari developer.
    O, iya, utamakan agar owner berlangganan air bersih ke developer ya. Sudah banyak developer melakukan hal ini. Jadi sistem air bersihnya bukan sistem "satu rumah satu sumur air tanah". Ini sangat buruk karena pengambilan air tanah menjadi sangat tidak terkendali. Contoh perizinan rumah tinggal yang akhirnya berubah menjadi rumah kos atau wisma.
    Demikian semoga membantu ya. Sukses untuk anda. Saya sdh lihat disain2nya di website. Anda bisa kunjungi website saya: derwinirawan.wordpress.com atau blog.fitb.itb.ac.id/derwinirawan untuk download materi kuliah. siapa tahu ada yang bermanfaat untuk proyek anda.
  • (gambar diambil di salah satu hotel di Bali)


Post a Comment