22 March 2014

#scientific writing: The one with the writer (1)



Seharusnya bagian ini muncul sebagai bagian dari bab "Merencanakan Tulisan". Bab itu belum dibuat, tapi kebetulan baru-baru ini saya berinteraksi dengan mahasiswa mengenai perlu atau tidaknya memasukkan nama pembimbing dalam artikel ilmiahnya.  
Terlepas dari itu, mari kita lihat apa kata penulis lain mengenai "authorship". Kata Bahasa Inggris itu cukup singkat untuk menjelaskan hal-hal yang mengatur (secara tertulis atau tidak tertulis mengenai para penulis). Buku "Scientific Writing" (Peat dkk 2002) menjelaskan bahwa para penulis suatu makalah harusnya memiliki kontribusi yang cukup dan urutan nama penulis sebanding dengan urutan porsi perannya dalam penulisan makalah. Menurut "Vancouver guidelines on authorship" yang dikutip oleh Peat dkk (2002), penulis harus berkontribusi cukup terhadap substansi makalah yang bisa berbentuk: konsep dan disain, analisis dan interpretasi data, menyusun draft makalah, mereview makalah, atau memberikan persetujuan akhir terhadap isi makalah. Dari uraian tersebut, nampak jelas bahwa nama penulis adalah nama orang-orang yang terlibat langsung dalam penulisan suatu makalah sejak awal perencanaan, hingga menyusun kesimpulan.  

Melihat penjelasan di atas, terlihat sederhana memang, kalau kondisinya ideal, tetapi dapat menjadi sensitif bila kondisinya tidak ideal. Bagaimana kondisi yang ideal dan bagaimana yang tidak ideal? Komplikasi dapat berkembang dari kondisi yang ideal. Berikut contohnya.

Ada seorang mahasiswa, bisa mahasiswa S1, S2, atau S3. Ia melakukan suatu penelitian tugas akhir di bawah bimbingan seorang pembimbing. Dalam proses tersebut si mahasiswa berhasil menyusun satu makalah tentang tugas akhirnya tersebut. Dalam kondisi seperti ini, maka dengan mudah dapat para penulisnya jelas, yaitu nama mahasiswa dan nama pembimbingnya. Ini kondisi yang ideal. 

Masalah berikutnya adalah timbul pertanyaan: 
1) apakah harus dua nama? mengapa tidak hanya nama mahasiswa sebagai orang yang bekerja di lapangan dan di laboratorium misalnya.  
2)  nama siapa yang pertama dan nama siapa yang kedua? 

Menjawab pertanyaan yang pertama, saya menyatakan bahwa satu makalah  yang sumbernya dari tugas akhir "harus" ada nama mahasiswa dan dosen pembimbingnya. Ini berlaku untuk program S2 dan S3, apalagi S1. Mengapa? Dalam suatu penelitian tugas akhir, mahasiswa dan pembimbing adalah satu tim. Pembimbing ikut bertanggung jawab terhadap kinerja mahasiswa bimbingannya. Itulah mengapa pembimbing selalu ditanya mengenai kinerja mahasiswa saat sidang S1, S2, apalagi S3. Pembimbing bertugas membimbing "set up" cara berpikir dan metodologi dalam riset tugas akhir. Beberapa pembimbing malah bekerja lebih dari itu. 

Untuk pertanyaan kedua, saya berpendapat nama mahasiswa adalah yang pertama, disusul nama pembimbing di belakangnya, khususnya dalam kondisi  mahasiswa telah menghasilkan tulisan sebelum ia lulus dan diwisuda. Dalam kenyataannya, terutama mahasiswas S1, tulisan disusun oleh dosen pembimbing setelah mahasiswa bersangkutan lulus dan diwisuda. Dalam kasus yang kedua memang bergantung kepada kesepakatan dua pihak. Menurut saya tidak salah bila nama pembimbing di depan dan nama mahasiswa di belakang. Tapi beberapa rekan dosen memilih untuk menempatkan namanya di belakang nama mahasiswa untuk memberikan penghormatan atas kerja keras mahasiswanya. 

Kondisi di atas masih terhitung ideal. Masalah berkembang bila ada lebih dari satu pembimbing. Kembali menurut saya, urutan nama penulis ditentukan oleh porsi peran pembimbing. Menurut pengalaman saya, bila ada dua pembimbing, maka ada pembimbing yang mengambil peran lebih teknis dan ada yang lebih normatif (biasanya dosen yang lebih senior). Apakah salah? Menurut saya tidak. Karena membimbingpun perlu kaderisasi kan. Dalam banyak kasus biasanya pembimbing utama adalah Guru Besar, sementara pembimbing kedua (atau ko-pembimbing/co-supervisor) adalah dosen juniornya. Dalam kasus ini, sudah menjadi kebiasaan tidak tertulis, bahwa pembimbing yang lebih junior mengambil peran lebih detil dan teknis dalam membimbing. Kasarnya, harus memeriksa tugas akhir sampai "titik-koma" :-). Oleh karena itu, urutan nama penulis menurut saya, adalah: nama mahasiswa, nama pembimbing kedua, nama pembimbing pertama, kecuali (tentunya) ada kondisi khusus atau ada kesepakatan antara tim penulis. 

Kondisi lainnya adalah bagaimana bila riset tersebut menggunakan jasa analisis pihak ketiga. Sebagai contoh: data diambil oleh mahasiswa, tapi analisis statistiknya menggunakan jasa analis profesional. Hal ini harusnya dihindari, karena mahasiswa harus pula memahami dan melakukan seluruh rangkaian metodologi sesuai kesepakatan dengan pembimbing. Tapi terkadang ada satu dan lain hal yang memaksa kondisi di atas dapat terjadi. Bila ini terjadi, maka hal terpenting agar si mahasiswa harus memahami dari konsep dasar dan teknis dari analisis yang dilaksanakan oleh pihak ketiga tersebut. Kemudian, menurut saya, nama analis profesional tersebut tidak perlu dimasukkan, karena hubungan ini adalah hubungan profesional (baca: mahasiswa membayar jasa tersebut). Namun apa yang terjadi bila pihak yang membantu analisis adalah person yang dihubungi oleh dosen pembimbing untuk membantu (bisa saja sesama dosen lain). Dalam hal ini, nama dosen tersebut harus dimasukkan, kecuali bila yang bersangkutan menyatakan tidak bersedia namanya ditulis (ada juga lo yang begini).  Tapi akan sangat beretika bila nama-nama pihak yang membantu dapat disebut di bagian "ucapan terima kasih" atau "acknowledgement", misalnya: instansi yang membiayai atau menjadi sponsor (kita sering lupa akan hal ini), atau mahasiswa yang membantu dalam pengambilan data, atau "proofreader" (orang yang memeriksa kesalahan ketik dan penyuntingan).

Demikian uraian pendek ini, mudah-mudahan membantu memberikan ide bagi yang memerlukan.

Salam {@dasaptaerwin}

Referensi:
Peat J, Elliot E, Baur L, and Keena V, 2002, Scientific Writing Easy when you know how, BMJ Books.


Posted: Friday, March 21, 2014 2.00 PM
Published: Saturday, March 22, 2014 5:46 PM
Post a Comment